BANTUAN YANG TIDAK PERLU

15 04 2011

Dear blogy….barusan ngebuka email lama ternyata tau g isi inbox-nya >>6000 unread-email….huahahahaha….kapan ya terakhir cek email-email itu ????

Nah, pas lagi ngubek-ngubek inbox terlihatlah e-news dr Midwifery-today yang paling baru n mulai baca-baca (sok bangetz hahaha…tuch email khan pake bahasanya bu-le ma pa-le jadinx yg anderstan cuman little-little…*_^ tapi gak pha-pha laaahh….nyang penting dah ada niat baik wat ngebaca,,,,urusan ngerti or kagak dipikirin ntar aza) jadi tertarik banget ama sudutnya (baca: corner. red) tante Jan.

Eh btw blogy dah kenal blom ama si tante??? blom ya??!!! Huuuu…payaaaahhh….ya udah,,,,sini chimut jelasin….Tante Jan itu punya nama lengkap Jan Tritten, beliau itu bisa dibilang mother of Midwifery Today karena beliau adalah founder, editor-in-chief and mother of Midwifery Today magazine dan yang wajib digarisbawahi trus di bold n fontnya italic beliau itu seorang BIDAN sejak tahun 1977 (wow…berarti bukannya “tante” panggilannya tapi “oma”). Udah kenal kan??!! naaahh…sekarang chimut paste tulisannya disini biar semua bisa baca, telaah n maknai…….yuukk….mariiii….

 Jan’s Corner

Too Much “Help”

When I was 12 years old I raised pigeons. It was fun and exciting. I had as many as 50 or more at one time. I enjoyed watching the fathers and mothers get together and sit on their eggs; they mate for life. I would go and listen to the babies in the eggs when their time was near, pecking away to work themselves out of their egg homes. They would come out into the world featherless and quite homely.

Once, early in my pigeon raising years, as a little one was pecking its way out of her egg home, I decided to help. I just helped a little, pulling some of the cracked shell off gently. Not too much help, just a little. The baby died because, you see, like a butterfly coming out of the cocoon, it had to make its way on its own. Isn’t that a lot like technology used unnecessarily in birth?

My finger “helpers” pulling on the eggshell were actually killers. In birth our interventions are sometimes the same—they can be killers. Thankfully, most mothers and babies are resilient and come out seemingly okay. Often though, when we look deeper, they are not okay. Mothers are often left feeling robbed by our ignorance and arrogance and are sometimes too traumatized to mother at their best. If a woman is dealing with the sequelae of a cesarean, she may be as scarred emotionally as she is physically.

Babies may be prone to drug use in later life because the mom was given obstetric medication. Michel Odent’s Primal Health Database contains a number of studies on this subject, including the Jacobson studies’ “Obstetric pain medication and eventual adult amphetamine addiction in offspring.” According to the study, “A specific link was found between amphetamine addiction and the use of nitrous oxide by the mother when she was in labor.” There are other, similar studies in this database, but the point is that we are causing problems for motherbaby with our technology. It is difficult to discern when something can be life saving and life threatening. That is, indeed, the art of midwifery. Our job is to be ever so careful, to practice the true art of midwifery and “First, do no harm.”

Udah??? dah difahami??? dah dapat maknanya??? klo blum dapet…tanyain Bang Mamat tuch…kynx juga lagi nyari-nyari,,,hehehe

Yupz,,,setelah membaca itu chimut jadi ingat ceritanya pak Ary Ginanjar yang dari ESQ,,,cerita tentang sebuah ato seekor kepompong (hehe,,bingung nentuin kepompong itu hewan ato benda yahh??? ^_^) yang mau berubah atau bahasa kerennya lagi dalam proses Metamorfosis menjadi kupu-kupu. Ada seorang pria yang melihat si bayi kupu-kupu itu dengan susah payah berusaha untuk keluar dari kepompongnya, dengan niat dan maksud hati yang baik pria tersebut mencoba meringankan beban yang ditanggung Sang kupu-kupu. Pria tersebut membantu menggunting kepompong dan keluarlah kupu-kupu itu dengan mudah dan selamat. Setelah beberapa lama kupu-kupu itu keluar dia dengan susah payah mengepakkan sayap, tapi apa mau dikata sayapnya lemah dan tidak kuat untuk digerakkan. Tidak lama setelah itu Sang kupu-kupu yang malang semakin lemah dan akhirnya mati tanpa pernah bisa terbang dan mengepakkan sayapnya yang indah.

              

Dua cerita yang hampir sama maknanya….tidak menyalahkan oma Jan ataupun pria itu yang dengan tulus berniat untuk membantu Sang merpati dan Sang Kupu-kupu, tapi lihat apa yang terjadi???? ALLAH SWT menciptakan apapun, mengijinkan kejadian bagaimanapun dengan maksud-maksud yang terkadang kita manusia yang jahil ini tidak mengetahuinya. Seperti merpati dan kupu-kupu, mereka diharuskan BERUSAHA dengan kekuatannya sendiri untuk keluar dari cangkang dan kepompong. Hal tersebut dimaksudkan agar paruh dan sayap mereka menjadi kuat dan siap untuk hidup di dunia luar.

Dilatih dan disiapkan dengan cara berusaha lebih kuat SENDIRI tanpa bantuan orang lain, supaya ketika keluar menghadapi dunia yang lebih kejam mereka sudah jauh-jauh lebih siap. Ketika ada campur tangan yang tidak seharusnya, yang walaupun mungkin niatnya hanya membantu tetapi hal tersebut malah memberi Mudharat bagi yang dibantu. Perjuangan mutlak dibutuhkan dalam  menjalani hidup kita ini. Apabila ALLAH membolehkan kita hidup tanpa hambatan, itu hanya akan membuat kita lemah. Kita tidak akan sekuat ini. Tidak pernah bisa se Sukses ini.

Demikian halnya persalinan….persalinan adalah hal yang fisiologis, sekitar lebih dari 90% persalinan adalah fisiologis, terkadang kesombongan, ketidaktahuan petugas kesehatan lah yang menyebabkan keadaan berubah menjadi patologis. Mengutip apa yang dibilang oleh Oma Jan “dalam persalina, intervensi yang kita lakukan adalah hal yang sama–dapat menjadi PEMBUNUH. Untungnya kebanyakan ibu dan bayi itu tangguh dan dilahirkan yang terlihat seperti baik-baik saja”

So blogy….bantuan itu diberikan seperlunya intervensi itu diberikan sebutuhnya,,,bukan melarang kita bermurah hati memberikan bantuan kepada orang lain tapi….BERIKANLAH BANTUAN PADA TEMPAT DAN DENGAN CARA YANG TEPAT,,,,C U


Aksi

Information

4 responses

15 04 2011
nanangchairudin

ya ya ya ya intinya saat membantu kita harus tahu apakah kita layak dan pantas membantu, so can i help you..? “:)

16 04 2011
irm4chimut

tul banget…hmm kira2 bantuan apa yg bisa dikasih ??? ^_^

18 04 2011
Jaka

Perlu no rek buat memberikan BANTUAN PADA TEMPAT DAN DENGAN CARA YANG TEPAT?

18 04 2011
irm4chimut

hahaha…piye iki boss??? harusnx sampeyan yg memberikan hibah ke chimut…ditunggu traktirannya hehehe,,,,klo perlu no rek dpt dg segera sy kirimkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: