KDPK

15 02 2010
PERSIAPAN DAN PERAWATAN PASIEN OPERASI

Mata Kuliah : KDPK (Keterampilan Dasar Praktik Kebidanan)
Kode Mata Kuliah : Bd. 208
Sub Pokok Bahasan :

  1. Pre Operasi
  2. Intra Operasi
  3. Post Operasi

Dosen : Irmayanti, SST

PENDAHULUAN

PERAWATAN PERIOPERATIF

Tujuan dilakukan perawatan

Dilakukan untuk menetapkan strategi  yang sesuai dengan kebutuhan individu selama periode perioperatif sehingga klien memperoleh kemudahan sejak datang sampai klien sehat kembali.

Periode perioperatif

Perioperatif terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

  1. Pre-operatif (sebelum)
  2. Intra-operatif (selama)
  3. Post-operatif  (sesudah)
ISI

PRE-OPERATIF

Perawatan pre operatif  merupakan  tahap pertama dari  perawatan perioperatif  yang dimulai   sejak   pasien   diterima  masuk   di   ruang   terima   pasien   dan   berakhir   ketika   pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.

Persiapan   pembedahan   dapat   dibagi   menjadi   2   bagian,   yang   meliputi   persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).

  1. 1. Persiapan psikologi

Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena:

  1. Takut akan perasaan sakit, narkosa atau hasilnya
  2. Keadaan social ekonomi keluarga

Penyuluhan  merupakan   fungsi   penting   dari   perawat   pada   fase   pra   bedah   dan   dapat mengurangi  cemas pasien.  Hal-hal  dibawah  ini  penyuluhan yang dapat  diberikan kepada pasien pra bedah:

  1. Penjelasan tentang peristiwa

1)      Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).

2)      Hal-hal yang rutin sebelum operasi.

3)      Alat-alat khusus yang diperlukan

4)      Pengiriman ke ruang bedah.

5)      Ruang pemulihan.

6)      Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :

a)      Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.

b)      Perlu kebebasan saluran nafas.

c)      Antisipasi pengobatan.

  1. Bernafas dalam dan latihan batuk
  2. Latihan kaki
  3. Mobilitas
  4. Membantu kenyamanan
  1. 2. Persiapan fisiologi
    1. Diet
    2. Persiapan Perut

Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi.

Maksud dari pemberian lavement antara lain :

1)      Mencegah cidera kolon

2)      Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.

3)      Mencegah konstipasi.

4)      Mencegah infeksi.

  1. Persiapan Kulit

Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi.  Rambut  pubis dicukur  bila perlu saja,   lemak dan kotoran harus   terbebas   dari   daerah   kulit   yang   akan   dioperasi.   Luas   daerah   yang   dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2.

  1. Hasil Pemeriksaan

Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.

  1. Persetujuan Operasi / Informed Consent

Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat. Pada   kasus   gawat   darurat   ahli   bedah mempunyai  wewenang   untuk  melaksanakan operasi  tanpa surat  izin tertulis dari  pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak  dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.

  1. 3. Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima dengan perawat OK)
    1. Mencegah cidera

Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini :

1)      Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).

2)      Cek gelang identitas / identifikasi pasien.

3)      Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.

4)      Lepas perhiasan

5)      Bersihkan cat kuku.

6)      Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.

7)      Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.

8)      Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada gangguan pendengaran.

9)      Kaus   kaki   anti   emboli   perlu   dipasang   pada   pasien   yang   beresiko terhadap tromboplebitis.

10)  Kandung kencing harus sudah kosong.

11)  Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi ;

a)      Catatan tentang persiapan kulit.

b)      Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).

c)      Pemberian premedikasi.

d)     Pengobatan rutin.

e)      Data antropometri (BB, TB)

f)       Informed Consent

g)      Pemeriksan laboratorium.

  1. Pemberian obat premedikasi

Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi kecemasan,  memperlancar  induksi dan untuk pengelolaan anaesthesi.  Sedative biasanya diberikan pada malam menjelang operasi agar pasien tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas.

INTRA-OPERATIF

Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.

  1. 1. Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operatif

Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :

  1. Anggota steril

1)      Ahli bedah utama / operator

2)      Asisten ahli bedah.

3)      Scrub Nurse / Perawat Instrumen

  1. Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :

1)      Ahli atau pelaksana anaesthesi.

2)      Perawat sirkulasi

3)      Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).

  1. 2. Prinsip Tindakan Keperawatan Selama Pelaksanaan Operasi.
  1. Persiapan Psikologis Pasien
  2. Pengaturan Posisi

Posisi  diberikan perawat   akan mempengaruhi   rasa nyaman pasien dan  keadaan psikologis pasien.

Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :

1)      Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

2)      Umur dan ukuran tubuh pasien.

3)      Tipe anaesthesia yang digunakan.

4)      Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :

1)      Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.

2)      Sedapat mungkin  jaga privasi  pasien,  buka area yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan duk.

3)      Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik yang biasanya   dililitkan   diatas   lutut.   Saraf,   otot   dan   tulang   dilindungi   untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.

4)      Jaga   pernafasan   dan   sirkulasi   vaskuler   pasien   tetap   adekuat,   untuk meyakinkan terjadinya pertukaran udara.

5)      Hindari   tekanan pada dada atau bagain  tubuh  tertentu,  karena  tekanan dapat  menyebabkan   perlambatan   sirkulasi   darah   yang  merupakan   faktor predisposisi terjadinya thrombus.

6)      Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi karena hal ini dapat melemahkan sirkulasi dan menyebabkan terjadinya kerusakan otot.

7)      Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.

8)      Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di lengan.

9)      Untuk   posisi   litotomi,   naikkan   dan   turunkan   kedua   ekstremitas bawah secara bersamaan untuk menjaga agar lutut tidak mengalami dislokasi.

  1. Membersihkan dan Menyiapkan Kulit.
  2. Penutupan Daerah Steril
  3. Mempertahankan Surgical Asepsis
  4. Menjaga Suhu Tubuh Pasien dari Kehilangan Panas Tubuh
  5. Monitor dari Malignant Hyperthermia
  6. Penutupan luka pembedahan
  7. Perawatan Drainase
  8. Pengangkatan Pasien Ke Ruang Pemulihan, ICU atau PACU.

POST-OPERATIF

Perawatan   post   operasi  merupakan   tahap   lanjutan   dari   perawatan   pre   dan   intra  operatif yang dimulai  saat klien diterima di  ruang pemulihan /  pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya

Periode segera sesudah anaesthesi adalah gawat. Pasien harus diamati dengan jeli dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis yang intensif sampai pengaruh utama dari anaesthesi mulai berkurang dan kondisi umum mulai stabil. Banyaknya   asuhan   yang   dilaksanakan   segera   setelah   periode   pasca anaesthesi   tergantung   kepada   prosedur   bedah   yang   dilakukan.

  1. 1. Hal-hal   yang   harus diperhatikan meliputi :
    1. Mempertahankan ventilasi pulmonari

1)      Berikan   posisi   miring   atau   setengah   telungkup   dengan   kepala   tengadah kebelakang   dan   rahang   didorong   ke   depan   pada   pasien   sampai   reflek-reflek pelindung pulih.

2)      Saluran nafas buatan.

Saluran   nafas   pada   orofaring   biasanya   terpasang   terus   setelah   pemberian anaesthesi umum untuk mempertahankan saluran tetap terbuka dan lidah kedepan sampai reflek faring pulih. Bila pasien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak dan lendir harus dibantu dengan suction.

3)      Terapi oksigen

O2 sering diberikan pada pasca operasi, karena obat anaesthesi dapat menyebabkan lyphokhemia.   Selain   pemberian  O2  harus   diberikan   latihan   nafas   dalam  setelah pasien sadar.

  1. Mempertahankan sirkulasi

Hipotensi dan aritmia adalah merupakan komplikasi kardiovaskuler yang paling sering terjadi pada pasien post anaesthesi. Pemantauan tanda vital dilakukan tiap 15 menit sekali selama pasien berada di ruang pemulihan.

  1. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Pemberian   infus  merupakan   usaha   pertama   untuk  mempertahankan   keseimbangan cairan dan elektrolit. Monitor cairan per  infus sangat  penting untuk mengetahui  kecukupan pengganti  dan pencegah kelebihan cairan. Begitu pula cairan yang keluar juga harus dimonitor.

  1. Mempertahankan keamanan dan kenyamanan

Pasien post  operasi  atau post  anaesthesi   sebaiknya pada  tempat   tidurnya dipasang pengaman  sampai  pasien  sadar  betul.  Posisi  pasien  sering diubah untuk mencegah kerusakan saraf akibat tekanan kepada saraf otot dan persendian. Obat analgesik dapat diberikan pada pasien yang kesakitan dan gelisah sesuai dengan program dokter. Pada pasien yang mulai  sadar,  memerlukan orientasi  dan merupakan tunjangan agar tidak merasa sendirian. Pasien harus diberi penjelasan bahwa operasi sudah selesai dan diberitahu apa yang sedang dilakukan.

  1. 2. Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan/Recovery   Room

Uraian diatas telah membahas tentang hal yang diperhatikan pada pasien post anaesthesi.

Untuk  lebih  jelasnya maka dibawah  ini  adalah petunjuk perawatan/ observasi  diruang pemulihan:

  1. Posisi   kepala   pasien   lebih   rendah   dan   kepala   dimiringkan   pada   pasien   dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.
  2. Pasang pengaman pada tempat tidur.
  3. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.
  4. Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.
  5. Beri O2 2,3 liter sesuai program.
  6. Observasi adanya muntah.
  7. Catat intake dan out put cairan.
  8. Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis:

1)      Tekanan sistolik <  90 –100 mmHg atau > 150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg.

2)      HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit

3)      Suhu > 38,3° C atau kurang dari 35° C.

4)      Meningkatnya kegelisahan  pasien

5)      Tidak BAK + 8 jam post operasi.

  1. 3. Pengeluaran dari ruang pemulihan / Recovery Room

Kriteria umum yang digunakan dalam mengevaluasi pasien :

  1. Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.
  2. Tanda-tanda vital harus stabil.
  3. Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.
  4. Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.
  5. Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna.
  6. Urine yang keluar  harus adekuat   (  1cc/  Kg/jam).   Jumlahnya harus dicatat  dan dilaporkan.
  7. Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.
  8. Jika   keadaan   pasien  membaik,   pernyataan   persetujuan   harus   dibuat   untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
  9. Staf   dari   unit   dimana   pasien   harus   dipindahkan,   perlu   diingatkan   untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.
  1. 4. Pengangkutan Pasien keruangan

Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain:

  1. Keadaan penderita serta order dokter.
  2. Usahakan pasien jangan sampai kedinginan.
  3. Kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk menjaga bila muntah sewaktu-waktu dan  muka   pasien   harus   terlihat   sehingga   bila   ada   perubahan sewaktu-waktu terlihat.
PENUTUP

KESIMPULAN

  1. Perawatan pre operatif  merupakan  tahap pertama dari  perawatan perioperatif  yang dimulai   sejak   pasien   diterima  masuk   di   ruang   terima   pasien   dan   berakhir   ketika   pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
  2. Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.
  3. Perawatan   post   operasi  merupakan   tahap   lanjutan   dari   perawatan   pre   dan   intra  operatif yang dimulai  saat klien diterima di  ruang pemulihan /  pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya

Aksi

Information

One response

26 07 2010
rizky

pleas..kirini aku makalah tentang lavemen?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: